Jakpus Intensifkan Halau Manusia Gerobak
News, Pemerintahan, Utama 12.13
“Menjelang Lebaran, manusia gerobak biasanya mulai marak. Mereka berharap kedermawanan warga dan pengguna jalan untuk memberikan sedekahnya. Akibatnya, tentu saja dapat mengganggu pengguna jalan lainnya. Bahkan, bisa pula menimbulkan kecelakaan. Mereka juga menjadikan wilayah menjadi kumuh karena puluhan gerobaknya mangkal di sejumlah ruas jalan,” ujar Bernard Pasaribu, Kasie Oprasional Satpol PP Jakarta Pusat, Senin (30/8).
Diakui Bernard, pihaknya telah mendapatkan instruksi dari Plh Walikota Jakarta Pusat, Fatahillah untuk menertibkan sejumlah ruas jalan di Jakarta Pusat dari keberadaan manusia gerobak dan PMKS lainnya. Karena informasi terakhir yang diperolehnya, kini mulai banyak manusia gerobak yang mangkal di sejumlah ruas jalan sambil meminta-minta sehingga meresahkan masyarakat dan dapat menimbulkan kecelakaan lalu lintas.
Selama bulan Ramadhan, kata Bernard, pihaknya telah menjaring lebih dari 300 PMKS dimana 30 persen diantaranya merupakan manusia gerobak. Mereka kebanyakan diamankan dari beberapa wilayah di Jakarta Pusat seperti, kawasan Kemayoran, Jalan Juanda, Jalan Gadjah Mada, kawasan Tanahabang dan sekitar kawasan Menteng. “Jumlah manusia gerobak biasanya akan meningkat saat beberapa hari menjelang Lebaran. Tapi kami sudah siap untuk menghalau mereka melalui pengerahan dan penempatan petugas di wilayah yang kerap dijadikan berkumpulnya manusia gerobak,” katanya.
Dalam sepekan terakhir, sambungnya, sekitar 33 gelandangan di mana 8 diantaranya merupakan wanita dan 1 anak-anak yang sehari-harinya berkeliling menggunakan gerobak berhasil dijaring petugas. Selanjutnya, mereka digelandang ke Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat untuk dilakukan pembinaan. Sedangkan 8 gerobak milik mereka berhasil disita dan dibawa ke gudang milik Satpol PP DKI Jakarta di Cakung, Jakarta Timur.
Maraknya, manusia gerobak saat menjelang Lebaran menurut Bernard bukanlah hal baru yang terjadi di ibu kota. Setiap tahun mereka datang ke Jakarta dan jumlahnya selalu bertambah. Mereka sengaja datang ke Jakarta untuk meraup rupiah dengan memanfaatkan belas kasihan warga ibu kota saat hari raya. "Padahal, siapa tahu mereka di kampung memiliki rumah bagus ataupun kebun dan sawah," tandasnya.(bjc)