Gagal Jadi Akabri, Malah Jadi Camat Buldozer
Tokoh 12.22
Warga Senen yang multi etnis dengan beragam mata pencahariannya, membuat kawasan ini kerap dilanda gesekan antar sesama golongan, suku, atau bahkan para pedagang liar dan masyarakat sekitar. Maka tak heran jika sejak zaman Orde Lama hingga Orde Baru, kawasan Senen mampu menyedot perhatian pemerintah nasional dalam melakukan penertiban serta menciptakan keamanan.
Konon di saat Presiden Soekarno berkuasa, pemerintah pusat menciptakan kabinet baru khusus menangani tindak kriminal di Jakarta, terutama di Kecamatan Senen, yakni dengan mendirikan menteri pengawasan pencopetan. Di saat pemerintahan Orde Baru pun, daerah Senen tak juga redam akan tindak kejahatan. Senen malah semakin rawan kriminal dengan tindak kekerasan tertinggi di wilayah DKI Jakarta.
Yah, untuk memimpin suatu wilayah perkotaan yang padat penduduk dan rawan akan tindak kriminalitas, bukanlah suatu pekerjaan mudah, terutama seperti daerah show window seperti Senen. Tentu saja untuk menunjang tercapainya suatu wilayah kondusif yang aman, dibutuhkan figur pemimpin yang piawai dalam menghadapi segala persoalan dan juga tegas dalam bertindak. Kriteria itu agaknya melekat pada sosok Camat Senen, Hidayatullah.
Terbukti di Era tahun 1990 hingga 2000-an, Senen yang mencapai ranking 1 tingkat kriminalitas tertinggi di Jakarta, saat ini menurun menjadi peringkat 6 di DKI Jakarta. "Kuncinya, fungsi camat sebagai pelayanan dan memberikan rasa aman kepada masyarakatnya selalu dipegang teguh dalam mengatasi kriminalitas di daerah Senen," kata Hidayatullah.
Pria yang sudah 4,5 tahun menjadi Camat Senen ini juga menjelaskan, hasil kerja kerasnya selama ini sebagai pejabat aparatur tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan untuk menjadi orang nomor satu di Kecamatan Senen seperti saat ini, jauh dari cita-cita pria kelahiran 8 Maret 1960 ini. "Waktu kecil saya malah kepengen jadi Tentara, mengikuti jejak bapak," kenang Hidayatullah kepada beritajakarta.com, Kamis (29/7).
Namun sayang, impian Hidayatullah untuk meneruskan jejak sang ayah menjadi prajurit TNI harus kandas di tengah jalan. Setidaknya ketika dirinya gagal dalam mengikuti tes ujian masuk Akabri tahun 1985. Rasa kecewa sempat hinggap di hati pria berusia 50 tahun ini. "Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Kekecewaan yang berlarut akan menambah kekecewaan dan penderitaan saja," kata Hidayatullah.
Selanjutnya, dengan tekad yang bulat dan tak mau larut akan kekecewaan, di tahun yang sama, Hidayatullah ´banting setir´ menempuh jalur pendidikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) hingga tahun 1989. Lantas pada tahun 1992 melanjutkan pendidikan formal di Universitas Gajahmada mengambil jurusan Pemerintahan, program S1 dan lulus tahun 1996. Dari dua pendidikan yang dienyamnya itu, Hidayatullah bertekad mengabdi kepada masyarakat.
Selepas mengenyam pendidikan formal, dua tahun kemudian Hidayatullah terjun ke dunia pemerintahan dan memulai karir sebagai Sekretaris Kecamatan di Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Kemudian tahun 1999 hingga 2001 menjabat Wakil Camat Ciracas, Jakarta Timur. Tahun 2001 sampai 2003 sebagai Wakil Camat Makasar, kemudian tahun 2003 sebagai Camat Makasar dan tahun 2003 hingga 2006 menjadi Wakil Camat Kemayoran.
Karirnya yang mulus dan mampu mengatasi tantangan menghantarkan ayah 5 orang anak ini menduduki jabatan strategis sebagai seorang Camat Senen pada tahun 2006. Kesuksesan membawa Senen menjadi daerah yang aman, mempertahankan Hidayatullah sebagai Camat Senen hingga saat ini. "Beruntung pendidikan militer yang diberikan orangtua menjadi modal saya untuk memajukan daerah Senen untuk lebih tertib dan aman," kata suami dari Siti Rukhiah.
"Saya nggak pernah berpikir jika daerah Senen yang syarat konflik ini akan saya pimpin. Padahal dari dulu saya pernah berpikir kenapa kawasan Senen menjadi wilayah yang susah untuk diatur. Padahal faktor penunjang seperti dana, sarana prasarana, serta dukungan dari masyarakat untuk membuat Senen aman dan tertib itu ada. Inilah yang menjadi tantangan buat saya untuk menjadikan Kecamatan Senen lebih aman dari sebelumnya," tutur Hidayatullah.
Sebenarnya, mimimpin sebuah kecamatan seperti Senen bukanlah hal yang mudah. Sebab rintangan demi rintangan kerap dihadapi Hidayatullah baik berupa teror maupun ancaman yang dilayangkan malalui telepon atau SMS. " Seperti di tengah tusukan sate, harus bisa fleksibel. Karena melakukan hal positif, belum tentu benar di mata masyarakat. Ancaman sering terjadi, apalagi yang bersinggungan dengan penertiban," akunya.
Anggaran dan dukungan serta sarana prasarana untuk penertiban kawasan Senen di awal pemerintahannya hanya sebesar Rp 450 juta dan itu dirasakan cukup minim. Namun ia tak kehabisan akal dan menyiasatinya dengan mencoba melakukan pendekatan persuasif secara bersenandung dan terprogram rapih kepada masyarakat dan pedagang. Namun jika diperlukan, ia sewaktu-waktu menggunakan cara show of force. Sehingga pihak yang melakukan perlawanan terpaksa ditertibkan dengan tegas. “Yang nakal, langsung kita hajar," kata pria yang mendapat julukan Camat Buldozer oleh masyarakat dan pedagang ini.
Selama menjabat Camat Senen, Hidayatullah, mencoba menerapkan cara persuasif dalam mengatasi setiap masalah. Dengan cara itu pula pada akhirnya membuat kawasan Senen semakin tertata dan hasilnya cukup menggembirakan. Beberapa penertiban yang dilakukan berjalan mulus tanpa adanya gesekan. Seperti penertiban pedagang buku Kwitang atau penertiban 600 bangunan liar di Jl Bungur Raya. Kemudian penertiban di sisi tembok ´Berlin´ pada tahun 2009 silam dan masih banyak lagi contohnya.
Dengan metode penertiban yang tegas dan lugas tapi tetap mengedepankan musyawarah, pria berdarah Betawi yang lahir di Kampung Tengah Kramatjati, Jakarta Timur ini mulai dikenal dan disegani para pedagang serta masyarakat setempat. Dari sinilah Hidayatullah dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan menjunjung tinggi nilai kedisiplinan.
Di sisi lain, untuk memberikan kemakmuran pada warganya, ia kerap menggelar pelayanan masyarakat terpadu di malam hari. Pelayanan ini sengaja diberikan pada warganya yang tersebar di 514 RT dan 47 RW serta enam kelurahan. Ide ini pun banyak ditiru oleh kecamatan lain. Dalam hidupnya, Hidayatullah mempunyai prinsip mana yang tinggi manfaatnya dibanding mudharatnya. Itu pula yang menjadi ukuran dalam mengambil setiap keputusan. (bjc)