Tak Pernah Bercita-cita Jadi Jubir Gubernur
Tokoh 12.24
Ya, selain menjadi jubir gubernur, Cucu juga menjabat sebagai Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Kominfo dan Kehumasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sehingga, hari-harinya dihabiskan untuk mendampingi gubernur dan bercengkerama dengan sejumlah wartawan yang biasa meliput di lingkungan Balaikota DKI. Mantan Abang Jakarta tahun 1995 ini setiap harinya dituntut untuk gencar dalam menyebarkan informasi sebagai bahan pemberitaan, disamping juga harus aktif menjembatani hubungan dengan media massa.
Tak heran jika jebolah pasca sarjana dari Nanyang Business School Singapura ini harus menguasai segala bidang. Terutama yang terkait pembangunan di DKI Jakarta maupun program peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat. Bahkan ia juga harus siap datang lebih pagi dan pulang lebih malam dari gubernur. Kesibukannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di jajaran Pemprov DKI Jakarta sebenarnya juga tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Maklumlah, Cucu merupakan lulusan dari Teknik Perminyakan Universitas Trisakti yang mendapatkan begitu banyak tawaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan perminyakan di Indonesia.
Namun, tawaran tersebut ditolaknya karena sudah ada amanah dari ayahandanya, Haji Ahmad Sadeli (alm) yang meminta dirinya menjadi PNS. “Alasannya saat itu, dari 7 anaknya, tidak ada satupun yang menjadi pegawai negeri. Padahal ayah seorang PNS juga,” kata Cucu Ahmad Kurnia kepada beritajakarta.com.
Amanah tersebut disampaikan dua tahun sebelum ayahnya meninggal dunia. Kemudian tekad tersebut sudah menguat di dalam hatinya. Lalu pada tahun 1995, Cucu mengikuti ajang lomba Abang None Jakarta. Rupanya nasib mujur sedang berpihak pada dirinya sehingga ia berhasil meraih predikat Abang Jakarta Tahun 1995. Kemudian ia mulai berkecimpung di dalam kegiatan Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Kala itu, Kepala Dinas Pariwisata DKI masih dijabat oleh Fauzi Bowo, yang saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Sejak itulah timbul ketertarikan yang cukup tinggi untuk mewujudkan amanah ayahanda. Kemudian, pria kelahiran Jakarta 8 Januari 1971 ini, melamar menjadi PNS di Pemprov DKI Jakarta. Pada tahun 1997, ia harus mengikuti ujian PNS, namun tantangan paling berat dihadapinya saat itu. Saat mengikuti ujian sebagai PNS, ayahandanya dipanggil oleh Allah SWT.
“Akhirnya saya bela-belain ikut ujian PNS pas bapak saya meninggal. Jadi saya tidak sempet ikut sholat jenazah dan menguburkan bapak, karena saya menjalankan amanah beliau. Alhamdulillah, saya berhasil mewujudkan amanah bapak, saya diterima menjadi PNS pada tahun 1997 dan diangkat pada tahun 1998 di Dinas Pariwisata,” kenang suami dari Irnawaty Rasyid.
Sejak tahun 1998, mulailah Cucu bekerja sebagai PNS Pemprov DKI. Kariernya pertama kali menapak di Dinas Pariwisata DKI Jakarta, saat gubernur DKI dijabat oleh Surjadi Soedirdja. Di unit itu, mulai dari staf biasa hingga menjabat Kepala Seksi Promosi Luar Negeri pun sempat dilakoni Cucu. Meski mengalami tantangan berat dalam menjalankan tugasnya, namun menurutnya menjadi PNS itu merupakan pengalaman unik dan banyak hal yang menarik dialaminya. Antara lain ia bisa jalan-jalan ke luar negeri dan membandingkan negara Indonesia dan kota Jakarta dengan negara dan kota besar di belahan dunia. Dengan begitu ia mendapatkan masukan apa saja yang harus dikerjakan untuk memajukan kota Jakarta.
Kemudian pada tahun 2005, anak keempat dari tujuh bersaudara ini mengambil cuti karena harus menempuh pendidikan pasca sarjana di Nanyang Business School di Singapura untuk meraih gelar MBA. Setelah itu, tahun 2006 ia kembali ke Jakarta dan ditugaskan di Biro Perekonomian. Selanjutnya pada tahun 2007, kembali ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI. Kemudian tahun 2009, ia dilantik menjadi Kepala Bidang Informasi Publik, Dinas Kominfo dan Kehumasan Pemprov DKI hingga sekarang.
Setelah 13 tahun berkarir di Pemprov DKI Jakarta, Cucu sangat menikmati menjadi PNS. Bahkan dia tidak pernah menyesal. “Saya pernah magang di perusahaan perminyakan selama satu bulan, tapi saya tidak betah, karena lingkungan kerjanya monoton. Kalau di Pemprov DKI, lingkungan kerjanya dinamis meski gajinya tidak setinggi bekerja di perminyakan. Yang penting kita cinta dengan pekerjaan, gaji nomor sekian,” tuturnya.
Kendati demikian, ayah dari Safiera Amalia Kurnia dan Wildan Fadhilah Kurnia, tetap merasakan kendala berkreatifitas. “Kita ingin kreatif dalam melakukan tugas, tetapi seringkali kita terbentur dengan aturan main yang telah ditentukan. Akhirnya banyak kegiatan yang tidak bisa maksimal dilaksanakan. Hal itu di mana pun bisa terjadi,” bebernya.
Selain itu duka yang dialaminya adalah perubahan jam kerja yang menuntutnya memberikan waktu lebih banyak di kantor daripada di rumah. Bahkan, kadang hari Sabtu dan Minggu pun ia harus bekerja. “Memang protes atau komplain dari keluarga ada. Tapi saya berikan pengertian kepada mereka. Saya pun harus pintar membagi waktu,” ujarnya. Cara jitu untuk tetap mendekatkan diri dengan keluarga, setiap pagi Cucu menyempatkan dirinya untuk mengantar kedua anaknya ke sekolah. Pada saat itulah, mereka banyak bercerita dan bertukar pikiran.
Pria yang menikahi Irnawaty Rasyid pada 1 November 1998, mempunyai harapan dapat membawa citra Pemprov DKI lebih positif di mata masyarakat, stakeholder, dan mitra kerjanya ke depan. Ia juga ingin membawa Dinas Kominfo dan Kehumasan DKI menjadi jembatan antara media dengan seluruh instansi di Pemprov DKI Jakarta. (bjc)